Minggu, 03 Juli 2016

Bagaimana dampak regulasi Risk Based Capital di industri Asuransi Indonesia?

Jawaban Anto Erawan dari Pertanyaan Bagaimana dampak regulasi Risk Based Capital di industri Asuransi Indonesia? di SETO.CO.ID

Lihat jawaban selengkapnya di SETO.CO.ID

Regulasi Risk Based Capital (RBC) ditujukan untuk menjaga kesehatan industri Asuransi. Situasi ekonomi dan aspek regulasi di Indonesia saatini berdampak pada meningkatnya tantangan di industri asuransi. Olehkarena itu, perusahaan harus mampu menghadapi tantangan yang cukup berat diindustri ini. Meningkatnya tantangan industri asuransi kemungkinan menjadi penyebab penutupan beberapa perusahaan asuransi di Indonesia ditunjukkan padatabel berikut:

Kategori

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

Asuransi Jiwa

51

51

46

45

46

46

45

45

Asuransi Non-Jiwa

97

97

94

90

89

87

85

83

Reasuransi

4

4

4

4

4

4

4

4

Asuransi Sosial

2

3

3

3

3

3

3

3

Lain-lain

3

2

2

2

2

2

2

2

Total

157

157

149

144

144

142

139

137

Sumber: BPS

Berdasarkan tabel diatas jumlah perusahaan asuransi di Indonesia antara 2007 sampai 2014 terus menurun jumlahnya. Jumlah perusahaan asuransi pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 8 (delapan) perusahaan atau mengalami penurunan sebesar 5.1% dibandingkan dengan tahun 2008. Pada tahun 2010 kembali berkurang sebesar 5 (lima) perusahaan asuransi. Pada tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 2 (dua) perusahaan asuransi dari 144 pada tahun 2010. Pada tahun 2013 perusahaan asuransi kembali turun jumlahnya dari 142 perusahaan asuransi menjadi 139 perusahaan asuransi atau mengalami penurunan sebesar 5 (lima) persen dibandingkan tahun 2012. Pada tahun 2014 perusahaan asuransi kembali turun jumlahnya dari 139 perusahaan asuransi menjadi 137 perusahaan asuransi atau mengalami penurunan sebesar 2 (dua) persen dibandingkan tahun 2013. Dengan kata lain, perusahaan asuransi antara 2007-2013 mengalami penurunan sebesar 20 (dua puluh) perusahaan atau mengalami penurunan sebesar 12.74%.

Menurut Departemen Keuangan (2012), penutupan beberapa perusahaan asuransi disebabkan karena perusahaan asuransi tidak dapat memenuhi minimum Risk Based Capital (RBC). Selain penutupan perusahaan asuransi ada juga perusahaan asuransi yang mengembalikan izin usaha karena menggabungkan portofolio asuransi yang lain, dan ada juga perusahaan asuransi yang berada di bawah pengawasan khusus karena permasalahan tidak dapat memenuhi minimum Risk Based Capital (RBC). Pemerintah mengeluarkan peraturan melalui Menteri Keuangan Nomor 53/PMK/010/2012 tentang kesehatan keuangan perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi.

Menurut Departemen Keuangan (2012), asuransi dan perusahaan reasuransi setiap saat wajib memenuhi tingkat solvabilitas (perbedaan antara jumlah aset dikurangi total kewajiban yang diperbolehkan) minimal 120 persen dari Risk Based Capital. Minimum Risk Based Capital adalah jumlah dana yang dibutuhkan untuk mengantisipasi risiko kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari deviasi dalam pengelolaan aset dan kewajiban.

Pada tahun 2010, Departemen Keuangan mengeluarkan daftar perusahaan asuransi yang dikenakan Pembatasan Kegiatan Usaha (PKU) dikarenakan tidak bisa memenuhi tingkat solvabilitas (perbedaan antara jumlah aset dikurangi total kewajiban yang diperbolehkan) minimal 120 persen dari Risk Based Capital.Berikut daftar perusahaan asuransi yang tidak bisa memenuhi tingkat solvabilitas (perbedaan antara jumlah aset dikurangi total kewajiban yang diperbolehkan) minimal 120 persen dari Risk Based Capital.

Perusahaan Asuransi yang Dikenakan Pembatasan Kegiatan Usaha:

No

Perusahaan Asuransi

1

PT Asuransi Prima Perkasa Internasional

2

PT Anugerah General Insurance

3

PT Asuransi Anugerah Bersama

4

Koperasi Asuransi Jiwa Indonesia

5

PT Asuransi Jiwa Buana Putera

6

PT Asuransi Jiwa Elite

7

PT Asuransi Jiwa Mukjizat Utama

8

PT Asuransi Jiwa NussaLife Financial

Sumber: Departemen Keuangan, 2011


Tulisan ini dipost melalui Aplikasi Seto di tanya jawab seputar dan Asuransi.

Minggu, 19 Juni 2016

Apa yang membuat seseorang gagal dalam hidup?

Jawaban Anto Erawan dari Pertanyaan Apa yang membuat seseorang gagal dalam hidup? di SETO.CO.ID

Lihat jawaban selengkapnya di SETO.CO.ID

Seseorang yang masa mudanya terbuang cuma-cuma, tidak punya tujuan hidup, tidak punya arah hidup, tidak untuk mengejar mimpinya, dan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Mereka sudah mati, tapi belum juga dikubur.


Seseorang yang menjadi apa yang orang lain inginkan, ketimbang menjadi apa yang diri sendiri inginkan.


Seseorang yang menyesali kesempatan yang terbuang tapi tidak dia ambil


Seseorang yang salah paham dengan makna sukses yang diidentikan dengan kekayaan.

Tulisan ini dipost melalui Aplikasi Seto di tanya jawab seputar dan Saran Kehidupan.

pic

Selasa, 26 April 2016

Bagaimana tips dan trik untuk mendapatkan rumah bersubsidi dari pemerintah?

Jawaban Anto Erawan dari Pertanyaan Bagaimana tips dan trik untuk mendapatkan rumah bersubsidi dari pemerintah? di SETO.ID

Lihat Selengkapnya di SETO.ID

Kementerian Perumahan Rakyat memiliki program KPR FLPP yang dapat Anda miliki dengan harga dan cicilan terjangkau.

KPR FLPP (fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan) diberikan bagi MBR (masyarakat berpenghasilan rendah), baik berpenghasilan tetap maupun tidak tetap. 

Berdasarkan pengalaman beberapa persyaratannya tersebut antara lain:

(1) Belum pernah memiliki rumah, baik melalui pembiayaan bersubsidi maupun tidak bersubsidi.

(2) Penghasilan pokok maksimal Rp3,5 juta untuk rumah tapak dan Rp5,5 juta untuk Rusun.

(3) Memiliki NPWP dan SPT atau Surat Pernyataan Penghasilan.

Sedangkan, spesifikasi rumah yang diperbolehkan adalah:

(1) Rumah tapak dengan luas minimal 36 meter persegi.

(2) Rumah susun berukuran antara 21 meter persegi hingga 36 meter persegi.

Persyaratan fisik bangunan rumah FLPP  diantaranya: atap, lantai, dan dinding memenuhi persyaratan teknis keselamatan, keamanan dan keandalan bangunan, jaringan distribusi air bersih perpipaan dari PDAM atau sumber air tanah yang layak, utilitas jaringan listrik yang berfungsi, jalan lingkungan yang telah selesai dan berfungsi serta saluran atau drainase tertata dengan baik.

KPR FLPP memiliki tingkat suku bunga maksimal 7,25%, sudah termasuk premi asuransi jiwa, asuransi kebakaran, dan asuransi kredit. Selain itu, angsuran tetap selama masa tenor (fixed rate mortgage) dengan metode perhitungan bunga anuitas atau efektif. Uang muka disesuaikan ketentuan bank pelaksana, dan tenor sesuai kesepakatan dengan bank pelaksana, maksimal 20 tahun.

Sabtu, 28 Juni 2014

The Most Effective Calls to Action for Facebook Posts

The Most Effective Calls to Action for Facebook Posts

Simply asking people to share a post is often the most effective call to action (CTA) for Facebook posts by brands, according to a recent report from TrackMaven.
Posts that include the word "share" garner nearly two times as many social actions (likes, comments, and shares) on average compared with those that do not (4.02 vs. 2.19 average interactions per post), the analysis found.
Use of the word "please" was also found to be an effective CTA, with nearly double the average number of interactions as well.
Of the words examined, "now" was found to be the least effective: Posts including the word have only marginally greater effectiveness than those that do not.
Despite the effectiveness of some CTAs, the report notes, marketers must bear in mind that the latest News Feed algorithm change penalizes Pages that engage in "feed spam behavior," which is defined by Facebook as "when a post explicitly asks News Feed readers to like, comment or share the post in order to get additional distribution beyond what the post would normally receive."
Accordingly, the authors suggest marketers follow Facebook's advice and create calls to action that are "genuinely trying to encourage discussion among fans."
Below, additional key findings from the report, which was based on an analysis of 1,578,006 posts shared by brands on 5,804 Facebook Pages.
Hashtags
  • 83.9% of the posts examined did not contain any hashtags.
  • Among posts that included hashtags, the majority had only a single hashtag, accounting for 11.6% of all posts.
  • Posts that included hashtags had more interactions on average than those that did not.
  • Posts with one or two hashtags had more engagement on average than those with three or four.
  • Only 0.02% of the posts examined used seven hashtags, but those that did had exceptional engagement, with 5.41 average interactions per post.
Punctuation
  • 71.2% of the Facebook posts examined did not include an exclamation point, 21.6% used a single one, 5.2% had three, and 2% included four or more.
  • The analysis found a positive correlation between post effectiveness and number of exclamation points per post.
  • Posts with seven exclamation points had the most engagement, with 7.8 interactions on average.
  • 78.1% of the Facebook posts examined did not contain a question mark, 19.6% had a single one, 1.8% included two, and 0.48% had three or more.
  • As with exclamation points, the analysis found a positive correlation between post effectiveness and the inclusion of question marks: Posts without question marks had fewer average interactions per post (2.35) than those that included one or more questions marks (2.90).
  • Posts that used nine question marks had extremely high engagement, with 6.05 average interactions per post on average, but such post accounted for fewer than 0.002% of posts.
About the research: The report was based on 1,578,006 posts shared by brands on 5,804 Facebook Pages. All of the Pages included had a minimum of 1,000 Likes

Happy Third Birthday, Google+! Now What? [Infographic]

N E X T
Text:  A A

Happy Third Birthday, Google+! Now What? [Infographic]

Three years ago today, Google+ was launched. Since then, reviews of the social media network have been mixed.
The positive column of Google+ includes Google authorship, Google Hangouts, and the Google +1 button.
Your Google+ account helps you claim authorship of your original content. Google Hangouts is a free video chat service on the Google+ platform. And the +1 button serves as "a social signal for website ranking on the search engine and it will likely be used on search quality in the long term," according to the following infographic by DPFOC.
The negative column includes a high volume of forced integration, poor website navigation, and inactive users.
To find out more about the highlights and lowlights of Google+, as well as various stats and what the future might hold for the social network, check out the following infographic: